Menyajikan Informasi Seputar Kegiatan Bidang Kepustakawanan dan Arsiparis di Provinsi Bali
Senin, 30 Maret 2009
INTERNET DI PERPUSTAKAAN
Dalam waktu dekat, Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali akan meluncurkan webbsite sendiri. Saat ini pengerjaannya sedang dalam proses. Menurut Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali, Luh Putu Praharsini, SH. selain menampilkan profile dan segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsinya, webbsite tersebut akan diupayakan bisa menampilkan seluruh koleksi yang dimiliki Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali. Melalui webbsitenya, masyarakat akan bisa mengakses katalog koleksi Bapusip Provinsi Bali . “kami saat ini sedang mengupayakan proses migrasi database katalog ke webbsite. Kedepannya masyarakat cukup dari rumah atau dari warnet saja sudah bisa menelusuri koleksi yang tersedia di Bapusip Bali” imbuh Praharsini.
Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali juga akan menyediakan acces point internet sehingga masyarakat bisa menikmati internet secara gratis di ruang baca. Masyarakat bisa membawa laptop sendiri dan mengakses internet secara bebas di ruang baca. Bapusip juga akan menyediakan beberapa komputer yang bisa dipakai secara bergantian oleh seluruh anggota dan pengunjung. "Ini yang perlu disiasati karena antrean pemakaian komputer akan sangat panjang. Kami sangat berharap pengunjung akan mau berbagi dan mempergunakan fasilitas komputer yang tersedia secara bergantian. Akan lebih baik lagi apabila pengunjung membawa sendiri laptop" terang Praharsini.
Program ini dilaksanakan untuk dapat mewujudkan layanan Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali yang berbasiskan teknologi informasi sehingga kedepannya perpustakaan dan arsip benar-benar bisa berfungsi sebagai tempat belajar, pelestarian, penelitian dan sekaligus rekreasi. Praharsini berharap, program ini akan dapat dilaksanakan dalam waktu dekat. Sehingga masyarakat akan semakin cepat menikmati layanan berbasis teknologi ini.
Selasa, 10 Maret 2009
SEMINAR DAN MUSDA IPI BALI
Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), mungkin tidak banyak orang mengetahuinya. IPI memang tidak sepopuler PGRI, misalnya. Padahal sebagai sebuah organisasi profesi IPI sudah cukup lama berdiri.
Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) didirikan pada tanggal 6 Juli 1973 dalam Kongres Pustakawan Indonesia yang diadakan di Ciawi, Bogor, 5-7 Juli 1973. Kongres ini merupakan perwujudan kesepakatan para pustakawan yang tergabung dalam APADI, HPCI dan PPDIY dalam pertemuan di Bandung pada tanggal 21 Januari 1973 untuk menggabungkan seluruh unsur pustakawan dalam satu asosiasi. Dalam perjalanan panjang sejarah perpustakaan di negeri ini, jauh sebelum IPI lahir, sudah ada beberapa organisasi pustakawan di Indonesia. Mereka ini adalah Vereeniging tot Bevordering van het Bibliothekwezen (1916), Asosiasi Perpustakaan Indonesia (API) 1953, Perhimpunan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia (PAPSI) 1954, Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia (PAPADI) 1956, Asosiasi Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia (APADI) 1962, Himpunan Perpustakaan Chusus Indonesia (HPCI) 1969, dan Perkumpulan Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta (PPDIY).
Dalam Kongres Pustakawan Indonesia tahun 1973 tersebut, ada dua acara utama yang diagendakan, yaitu (1) seminar tentang berbagai aspek perpustakaan, arsip, dokumentasi, informasi, pendidikan, dan (2) pembentukan organisasi sebagai wadah tunggal bagi pustakawan Indonesia. Berkaitan dengan acara yang disebut terakhiri, Ketua HPCI Ipon S. Purawidjaja melaporkan bahwa sebagian besar anggota HPCI, melalui rapat di Bandung tanggal 24 Maret 1973 dan angket, setuju untuk bergabung dalam satu organisasi pustakawan. APADI pun memutuskan bersedia meleburkan diri melalui keputusannya tertanggal 4 Juli 1973, dan terhitung sejak 7 Juli 1973 APADI bubar sejalan dengan terbentuknya IPI.
Dengan kesepakatan bersama itu, maka kongres Ciawi melahirkan wadah tunggal pustakawan Indonesia, yaitu Ikatan Pustakawan Indonesia. Pemilihan untuk Pengurus Pusat, yang didahului dengan penyampaian tata tertib pemilihan, menghasilkan a.l. ketua Soekarman, sekretaris J.P. Rompas, dan bendahara Yoyoh Wartomo. Komisi yang terbentuk di antaranya adalah Komisi Perpustakaan Nasional yang diketuai oleh Mastini Hardjoprakoso, Perpustakaan Khusus oleh Luwarsih Pringgoadisurjo (alm.) dan Pendidikan Pustakawan oleh Sjahrial Pamuntjak. Pada tanggal 7 Juli 1973 itu juga Anggaran Dasar IPI yang terdiri dari 24 pasal disahkan oleh peserta Kongres.
Terkait dengan misi dan visi IPI, pada Rabu, 11 Maret 2009, IPI Daerah Bali telah menyelenggarakan Seminar Ilmiah dan Musda ke-3. Menurut Ketua Panitia, M. Usman Abroni, S.Sos. kegiatan yang mengambil tema "Perpustakaan dan Akselerasi Pemberdayaan Masyarakat" ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan peran IPI dalam forum kerjasama perpustakaan dalam pembangunan. “ Seminar dan Musda ini diharapkan akan dapat meningkatkan koordinasi, penyamaan visi, serta meningkatkan wawasan, intelektualitas dan profesionalisme pustakawan dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi global”, ujar Usman dalam laporannya.
Kegiatan yang dilaksanakan di Aula BLPP – Sesetan ini, mempunyai agenda utama pemilihan pengurus dan penyusunan program kerja IPI periode 2009-2011 serta seminar ilmiah. Seminarnya menampilkan empat orang narasumber, yaitu : IB. Mahasadi, S.Sos.M.Si (Biro Organisasi Setda Provinsi Bali), Drs. Kt. Sri Setiabudi, BA. (Perpustakaan Umum Kab. Badung), Albiner Silaen, SE. (Badan Perpustakaan & Arsip Prov. Bali), dan Drs. Putu Suhartika, M.si. (Perpustakaan UNUD).
Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali, Ni Luh Putu Praharsini, SH, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa, dalam menyikapi era keterbukaan, persaingan sehat, transparansi serta tuntutan akuntabilitas kepada publik / masyarakat luas, maka IPI sebagai wadah dari organisasi pustakawan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam memenuhi tuntutan memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya dalam pengembangan dan pemberdayaan perpustakaan.
Praharsini menegaskan, menarik atau tidaknya profesi pustakawan tersebut sangat tergantung atau berpulang kepada pustakawan itu sendiri. Sebab secara formal pemerintah telah mengakui dan menetapkan bahwa jabatan fungsional pustakawan merupakan salah satu jabatan fungsional sebagaimana jabatan fungsional yang lain seperti guru, peneliti dan lain sebagainya. Bentuk formal pengakuan pemerintah tersebut adalah dikeluarkannya SK Menpan Nomor 33/Men/PAN/1998 dan direvisi SK Menpan Nomor 132/Kep/Men/PAN/12/2002, dan lahirnya Undang-undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007
Dalam pembukaan kegiatan yang dihadiri kurang lebih 150 orang pustakawan tersebut, Praharsini menegaskan bahwa, sebagai organisasi profesi di bidang perpustakaan dan informasi IPI seharusnya dapat lebih berperan dalam meningkatkan mutu profesi para anggotanya. “Pertemuan ilmiah dan seminar hendaknya bisa dilaksanakan berkesinambungan, minimal dua kali dalam setahun. Karena seminar / pertemuan ilmiah merupakan wahana untuk dapat meningkatkan pengetahuan, wawasan, bahkan penghayatan atas nilai-nilai profesional yang diperlukan”, ucap Praharsini di hadapan peserta Seminar dan Musda IPI.
Senin, 02 Maret 2009
LOMBA MINAT BACA
Tidak sedikit upaya telah dilaksanakan oleh Pemerintah untuk memecahkan masalah ini. Satu contoh, pada setiap bulan September ditetapkan sebagai Pencanangan Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Pencanangan ini diharapkan akan mendukung program wajib belajar dan membangun masyarakat yang gemar membaca. Kesadaran akan pentingnya membentuk kebiasaan membaca dan menciptakan masyarakat gemar membaca pada gilirannya akan berperan dalam menjunjung upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan secara khusus meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Dra. Nyoman Andari, Kepala Bidang Layanan Perpustakaan menyatakan, diperlukan upaya yang terus menerus dan berkesinambungan agar minat baca masyarakat pada umumnya dan anak-anak didik kita pada khususnya dapat ditumbuhkembangkan secara mantap. “Untuk mempercepat peningkatan keterampilan dan kebiasaan membaca, disamping melalui buku-buku bacaan dan referensi yang mempunyai peranan sangat penting, perlu juga upaya-upaya kegiatan lainnya yang sifatnya merangsang dan memotivasi masyarakat untuk membaca”, imbuh Andari disela-sela kesibukannya melaksanakan layanan perpustakaan.
Terkait dengan peningkatan Minat Baca, Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali setiap tahunnya selalu melaksanakan Lomba Minat Baca. Pada tahun 2008 kemarin lomba dilaksanakan dengan mengambil tema ”Membangun Masyarakat Melalui Budaya Baca dan Perpustakaan “. Sasaran kegiatan ini adalah siswa tingkat TK, SD, SMP dan SMA / SMK se-Bali. Andari menyebutkan, tujuan kegiatan ini adalah untuk membangkitkan minat baca tulis masyarakat dalam upaya mewujudkan terciptanya masyarakat gemar membaca, gemar menulis, dan gemar belajar. Disamping itu, lanjut Andari, kegiatan ini berupaya menumbuhkan kebiasaan membaca pada setiap anggota masyarakat sehingga membaca bisa menjadi salah satu kebutuhan pokok dalam hidupnya.
Bentuk lomba yang dilaksanakan berupa (1) Lomba Mewarnai Tingkat Taman Kanak-Kanak se-Bali , (2) Lomba Membaca Cepat Tingkat SD kelas V dan VI se-Bali, (3) Lomba Bercerita / Masatua Tingkat SMP se-Bali, (4) Lomba Berpidato Tingkat SMA/SMK se-Bali, dan (5) Gerak Jalan Santai. Materi yang dilombakan adalah : Tingkat TK berupa Mewarnai Gambar, Tingkat SD berupa Membaca Cepat, Tingkat SMP berupa Bercerita/masatua Bali, dan Tingkat SMA/SMK berupa Berpidato dalam Bahasa Indonesia.
Kegiatan Lomba Mewarnai Tingkat Tk. se-Bali dilaksanakan hari Selasa, 9 September 2008. Sedangkan Lomba Membaca Cepat Tingkat SD se-Bali dilaksanakan hari Senin, 1 September 2008. Untuk Lomba Bercerita Tingkat SMP se-Bali dilaksanakan hari Selasa dan Rabu, 2 s.d 3 September 2008. Lomba Berpidato Tingkat SMA/SMK se-Bali dilaksanakan hari Kamis s.d Jumat, 2 s.d 3 September 2008. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan mulai pukul 09.00 Wita sampai selesai di Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali.
Pelaksanaan final dari Lomba Membaca Cepat Tingkat SD, Lomba Bercerita Tingkat SMP, Lomba Berpidatao Tingkat SMA/SMK yang masuk nominasi dilaksanakan hari Senin, 8 September 2008 pukul 09.00 Wita sampai selesai di Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali. Sedangkan Gerak Jalan Santai dilaksakan hari Jumat, 12 September 2008 pukul 06.30 Wita yang pelaksanaannya start dan finish di Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali
Sistem penilaian lomba meliputi : (1) untuk Bercerita : Kreativitas anak / cara mewarnai, Kebersihan / keterampilan, Tuntas / semua bidang gambar diberi warna, (2) membaca cepat : Penampilan, Bahasa, Penguasaan materi, Kecepatan dan pemahaman, (3) bercerita / masatua Bali : Penampilan, Cara / teknik bercerita, Penguasaan materi, Kemampuan / skill peserta, (4) berpidato : Penampilan, Penguasaan materi / naskah, Bahasa dan teknik berpidato. Tim juri terdiri dari Drs. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum., Ida Bagus Gana Murti, SH. SS, dan I. G.A.A. Mas Triadnyani, M.Hum,
Berdasarkan hasil penilaian Dewan Juri Lomba Minat Baca Tingkat Provinsi Bali Tahun 2008, dengan ini diumumkan bahwa yang berhak menjadi pemenang dalam Lomba Minat Baca Tingkat Provinsi Bali Tahun 2008 adalah sebagai berikut :
1. Lomba Mewarnai Tingkat TK se-Bali :
Juara I : Putu Tina Febri Artaningsih (TK. Swadarma)
Juara II : Rio Aditya (TK. Aisyiyah 2)
Juara III : Ni Wayan Putri Primayanthi (TK. Swadarma)
Juara Harapan I : Alfina Budi Utami (TK. Aisyiyah 1)
Juara Harapan II : Faysa Lugina Nur Fajriany (TK. Aisyiyah 2)
Juara Harapan III : Renisa Velda Anandita S (TK. Aisyiyah 2)
2. Lomba Membaca Cepat Tingkat SD Negeri/Swasta se Bali :
Juara I : I Gusti Ayu Sri Yuliana Pratiwi (SD. Negeri 1 Karangasem)
Juara II : Apollus Dimas Tori Putra Pangkur (SD. Negeri 6 Panjer)
Juara III : Ni Putu Debby Chintya Kirana (SD. Saraswati 3 Denpasar)
Juara Harapan I : Putra Ramendra Dirgantara (SD. Saraswati 4 Denpasar)
Juara Harapan II : Diva Faradilla (SD. Negeri 8 Sanur)
Juara Harapan III : I Gst. Ngr. Teja Tri Wahyuni (SD. Negeri 2 Sibangkaja)
3. Lomba Masatua Bali Tingkat SMP Negeri/Swasta se Bali :
Juara I : Ni Wayan Cahyani (SMP Madya Widya Darma Bangli)
Juara II : Komang Tri Astuti Rahayu (SMP Negeri 1 Susut)
Juara III : Ida Bagus Putu Tilem Singarsa (SMP Negeri 1 Abiansemal)
Juara Harapan I : Ni Putu Gian Linda Juwita (SMP Negeri 3 Denpasar)
Juara Harapan II : Ni Luh Pt. Wulan Dewi Saraswati (SMP Negeri 1 Denpasar)
Juara Harapan III : Dian Sinthayani (SMP Negeri 1 Singaraja)
3. Lomba Berpidato Tingkat SMA/SMK Negeri/Swasta se-Bali :
Juara I : Sari Dewi Noviyanti (SMA Negeri 1 Singaraja)
Juara II : Gusti Ngurah Arya Purnama Putra (SMA Negeri 1 Melaya)
Juara III : Ni Putu Asteria Yuniarti (SMA Negeri 1 Abiansemal)
Juara Harapan I : Monica (SMA Negeri 4 Denpasar)
Juara Harapan II : Santhi Pradayini Savitri (SMA Negeri 1 Semarapura)
Juara Harapan III : Ni Luh Christina Prapmika Jayanti (SMAN 1 Denpasar)
Kepada para juara lomba bercerita tingkat TK, SD dan SMP masing-masing diberikan hadiah sebagai berikut :
Juara I Uang Tunai senilai Rp. 1.000.000 + Piala dan Piagam
Juara II Uang Tunai senilai Rp. 750.000 + Piala dan Piagam
Juara III Uang Tunai senilai Rp. 500.000 + Piala dan Piagam
Juara Harapan I Uang Tunai senilai Rp. 350.000 + Piala dan Piagam
Juara Harapan II Uang Tunai senilai Rp. 250.000 + Piala dan Piagam
Juara Harapan III Uang Tunai senilai Rp. 150.000 + Piala dan Piagam
Kepada para Juara lomba Berpidato Tingkat SMA/SMK Negeri/Swasta se Bali masing – masing diberikan hadiah sebagai berikut :
Juara I Uang Tunai senilai Rp. 1.250.000 + Piala dan Piagam
Juara II Uang Tunai senilai Rp. 1.000.000 + Piala dan Piagam
Juara III Uang Tunai senilai Rp. 750.000 + Piala dan Piagam
Juara Harapan I Uang Tunai senilai Rp. 500.000 + Piala dan Piagam
Juara Harapan II Uang Tunai senilai Rp. 350.000 + Piala dan Piagam
Juara Harapan III Uang Tunai senilai Rp. 250.000 + Piala dan Piagam
Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali bertekad akan terus melaksanakan kegiatan sejenis setiap tahunnya. Untuk tahun 2009 telah pula dipersiapkan pelaksanaannya. Andari berharap kualitas dan kuantitas kegiatan yang berupaya menumbuhkembangkan minat baca masyarakat akan semakin meningkat, sehingga masyarakat Indonesia akan semakin cerdas. "Sekolah-sekolah di seluruh Bali sudah seharusnya menyiapkan jago-jagonya untuk mengikuti lomba minat baca ini" ujarnya.
Menurut Andari, Panitia sudah mulai mempersiapkan pelaksanaan Lomba Minat Baca Tahun 2009. Rencananya lomba tahun ini akan dilaksanakan sekitar bulan Juli - Agustus 2009. Penyerahan hadiah akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Kunjung Perpustakaan tanggal 14 September 2009. Jenis lomba dan peserta / sasaran tetap melibatkan siswa TK, SD, SMU/SMK, Mahasiswa dan Masyarakat Umum. "Yang agak berbeda mungkin kemasannnya. Kami sedang susun perencanaannya sehingga kegiatan tersebut lebih mengena kepada masyarakat luas", ujar Andari meyakinkan.
Rabu, 11 Februari 2009
PERPUSTAKAAN, SABTU DAN MINGGU TETAP BUKA
Masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa menyambut baik dibukanya layanan Sabtu dan Minggu ini. Mereka merasakan manfaat langsung bisa menikmati layanan tersebut seluas-luasnya, tanpa harus kejar-kejaran dengan waktu melaksanakan aktivitas perkuliahan / belajar di sekolah. Belakangan ini, hampir setiap Sabtu dan Minggu jumlah kunjungan mengalami peningkatan.
Adapun jam buka layanan sirkulasi (pengembalian dan peminjaman) yang diberlakukan saat ini adalah sebagai berikut :
- Senin s/d Kamis : Pkl. 08.00 - 15.15 Wita
- Jumat : Pkl. 08.00 - 12.45 Wita
- Sabtu : Pkl. 08.00 - 15.15 Wita
- Minggu : Pkl. 08.00 - 13.00 Wita
Layanan perpustakaan ditutup hanya pada saat libur nasional dan libur fakultatif seperti Galungan, Kuningan, Pagerwesi, dan libur fakultatif lainnya yang diatur dengan Keputusan Gubernur Bali.
Dengan kebijakan jam buka layanan pada hari Sabtu dan Minggu ini diharapkan masyarakat akan semakin banyak mempunyai pilihan waktu untuk memanfaatkan jasa perpustakaan. Data kunjungan memperlihatkan semakin banyak orang tua yang mempunyai waktu dan kesempatan langsung mengantarkan anak-anaknya untuk membaca ke perpustakaan pada hari Sabtu / Minggu. Kepala Badan Perpustakaan & Arsip Provinsi Bali, Luh Putu Praharsini, SH. dalam setiap kesempatan menekankan harapannya untuk menjadikan perpustakaan bukan hanya sekedar tempat belajar dan penelitian saja, tetapi juga sekaligus bisa berfungsi sebagai tempat rekreasi keluarga. Praharsini berharap bisa meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan sehingga masyarakat semakin membutuhkan layanan perpustakaan. Untuk itu, praharsini akan mengupayakan untuk menata lebih jauh fasilitas perpustakaan baik menyangkut tata ruang/interior, fasilitas penelusuran, koleksi, fasilitas audio visual, sumber daya manusia, bahkan termasuk fasilitas kantin sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah layanan perpustakaan modern.
Senin, 09 Februari 2009
MOBIL KELILING KABUPATEN TABANAN
MPK tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Drs. Dedy Rachmananta, MLS. Untuk Provinsi Bali, tahun 2009 ini menerima 1 unit MPK yang dimanfaatkan untuk layanan keliling di Kabupaten Tabanan. MPK tersebut diterima langsung oleh Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tabanan. Turut hadir dalam penyerahan tersebut Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali. Dalam penyerahan MPK tersebut disertakan pula bantuan koleksi berupa buku-buku umum sebanyak 1.132 eksemplar.
Senin, 26 Januari 2009
Sejarah Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali
Mengingat pentingnya peran perpustakaan sebagai tempat kegiatan non formal, juga salah satu sarana pelestarian bahan pustaka yang berfungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi kebudayaan dan lainnya, maka pada tanggal 6 Maret 1989 terbitlah Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 1989 tentang Perpustakaan Nasional. Dengan terbitnya Keppres tersebut nama Perpustakaan Wilayah diganti menjadi Perpustakaan Daerah Bali. Perpustakaan ini berkedudukan sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Pada saat proses pengalihan status ini, Perpustakaan Daerah dipimpin oleh Made Sutanaya, BA. (1968-1990).
Pada bulan Desember 1997 terbit Keppres Nomor 50 tahun 1997 tentang Perpustakaan Nasional RI yang kemudian diikuti dengan terbitnya Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 44 tahun 1998 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perpustakaan Nasional RI. Dengan terbitnya Keppres dan Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional tersebut, maka Perpustakaan Daerah Bali berubah nama lagi menjadi Perpustakaan Nasional Provinsi Bali dengan peningkatan status menjadi perpustakaan tipe A (eselonering II) karena jumlah koleksinya lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) judul..
Dengan adanya kebijakan pindahnya kantor-kantor tingkat Provinsi dari Singaraja ke Denpasar maka perpustakaan ini juga ikut pindah ke Denpasar. Perpustakaan yang di Singaraja selanjutnya berstatus Unit Layanan. Terhitung dari tahun 1990 sampai dengan 1999 perpustakaan ini dipimpin oleh Drs. I Wayan Rateng Arimbawa. Selanjutnya sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2001 pimpinan perpustakaan ini dipegang oleh Drs. Elazar Mangku Barus, SH.
Terbitnya UU tentang Otonomi Daerah serta Peraturan Daerah (PERDA) Provinsi Bali Provinsi Bali Nomor 2 tahun 2001, tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah, menjadikan perpustakaan ini bukan lagi lembaga vertikal / pusat tapi telah lebur menjadi salah satu perangkat di daerah (Provinsi Bali). Nama lembaganya pun kemudian menyesuaikan menjadi Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali. Seluruh asset dan personilnya diserahkan kepada Gubernur Bali. Pada saat ini pimpinan dipegang oleh Albiner Silaen, SE. (2000-2008).
Sejak diberlakukannya PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, serta diterbitkannya Peraturan Daerah (PERDA) Provinsi Bali Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah, maka sejak 28 Juli 2008 perpustakaan ini digabung dengan Kantor Arsip Daerah. Nama lembaganyapun kemudian berubah menjadi Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali. Terhitung sejak tanggal 28 Agustus 2008 sampai sekarang lembaga ini dipimpin oleh Ni Luh Putu Praharsini, SH.
Widya Pataka 2009
Pemerintah Provinsi Bali melalui Badan Perpustakaan dan Arsip, pada tahun 2009 kembali akan memberikan penghargaan ”Widya Pataka” kepada penulis yang telah menulis buku tentang Bali. Yang dimaksud dengan buku Bali adalah semua jenis buku, seperti sastra, bahasa, agama, tradisi, seni, sejarah, pertanian, dan kebudayaan umum.
Penghargaan “Widya Pataka” pertama kali diberikan tahun 2006. Pada saat itu telah diberikan penghargaan kepada 6 (enam) orang Penulis / Pengarang Bali yaitu : Drs. I Nyoman Manda, I Wayan Pamit, I Ketut Ruma (kategori pengarang berbahasa Bali) dan Prof. Dr. I G.N. Nala, M.Ph, Ida Ayu Putu Surayin, Drs. I.B. Putu Sudarsana, MBA, MM. (kategori pengarang berbahasa Indonesia). Kepada masing-masing pengarang diberikan plakat Widya Pataka dan hadiah uang tunai.
Berbeda dengan pelaksanaan tahun 2006, penghargaan “Widya Pataka” tahun 2007 diberikan berupa plakat dan hadiah / bantuan biaya cetak / penerbitan buku dari pengarang bersangkutan. Widya Pataka 2007 diberikan kepada 14 (empat belas) orang pengarang Bali yaitu : IGK TRIBANA (judul buku Desas-desus Seks dalam Pendidikan), KADEK SUARTAYA (Seni Pertunjukan Bali), KETUT WIANA (Sembahyang Memuja Tuhan), MADE ADNYANA (Padi Dumadi), MADE NITIS (Budidaya Gamal di Lahan Kering), MADE SUJAYA (Perkawinan Terlarang), MADE TARO (Dongeng Sepanjang Abad), MAS RUSCITA DEWI (Penari Sanghyang), NYOMAN SUKAYA SUKAWATI (Mencari Surga di Bom Bali), NYOMAN TINGKAT (Kumpulan Esei), NYOMAN WIRATA (Merayakan Pohon di Kebun Puisi), WAYAN JENDRA (Sampradaya, Kelompok Belajar Weda), WAYAN KUN ADNYANA (Nalar Rupa Perupa), dan WAYAN SUNARTA (Impian Usai).
Sambutan masyarakat terhadap buku-buku terbitan program “Widya Pataka” ini cukup bagus. Buku-bukunya yang telah terpajang di berbagai toko buku, baik di Bali maupun luar Bali, cukup laku di pasaran. Bahkan, menurut penerbitnya, untuk memenuhi pesanan / kebutuhan pasar pada Juli 2008 lalu buku-buku tersebut telah mengalami cetak ulang.
Berdasarkan hal tersebut, Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali kembali menggelar kegiatan ini di tahun 2008. Penghargaan “Widya Pataka” kembali diberikan kepada 10 orang penulis / pengarang Bali yaitu : Nyoman Darma Putra (Bali dalam Kuasa Politik), Ida Bagus Martinaya (Peti), Made Suantha (Pastoral Kupu-kupu), Sindu Putra (Dongeng Anjing Api), Wayan Juniarta (Bungklang Bungkling), Sunaryono Basuki Ks (Hanya Nestapa), Gde Artawan (Petarung Jambul), Wayan Suardika (Orang Kalah), A.A.G. Oka Wisnumurti (Elit Lokal di Bali), Wayan Artika (Kembali ke Bali). Kesepuluh judul buku yang diterbitkan telah diusahakan mewakili berbagai jenis buku antara lain ada kumpulan puisi, kumpulan cerpen, naskah drama, novel, esei, dan hasil penelitian.
Untuk tahun 2009, kembali akan diberikan penghargaan Widya Pataka kepada 10 orang pengarang/penulis Bali. Rencananya Panitia dan dewan juri akan mulai bekerja sejak awal Februari 2009 untuk menetapkan naskah dari beberapa pengarang yang berhak mendapatkan penghargaan / bantuan biaya cetak. Kriteria penilaian ada lima poin, yaitu kualitas buku, konsistensi, produktivitas, komitmen penulisnya, dan manfaat karyanya untuk masyarakat luas.Widya Pataka rencananya akan diberikan setiap tahun sehingga setiap pengarang / penulis memperoleh kesempatan yang sama dan diharapkan dapat merangsang para penulis untuk terus berkreativitas menulis dan secara tidak langsung akan menumbuhkan iklim yang sehat terhadap pertumbuhan penerbitan buku di Bali.
Widya Pataka 2009 ini direncanakan diserahkan pertengahan awal Nopember 2009. Selain memberikan penghargaan Widya Pataka kepada penulis, Badan Perpustakaan dan Arsip juga akan mengadakan launching, bedah buku dan apresiasi dari buku-buku yang diterbitkan serta temu / forum koordinasi antar penulis dan penerbit. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memotivasi dunia penulisan dan penerbitan buku di Bali. Panitia akan mengundang para pakar dan pencinta seni / budaya, penerbit, seniman, pengarang, wartawan, dosen, guru, mahasiswa / siswa dan masyarakat umum untuk menghadiri kegiatan tersebut.
“Widya Pataka” yang dirintis pertama kali tahun 2006 ini diharapkan bisa dilaksanakan berlanjut setiap tahun. Kelak, penghargaan akan diperluas untuk ‘karya cetak dan karya rekam (KCKR)’. Untuk kategori terakhir tentu saja termasuk kaset, video, film documenter, dan sejenis.
Berkaca dari pengalaman pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, “Widya Pataka” tahun 2009 pun telah dimulai persiapannya. Panitia tidak menginginkan keterlambatan proses pencetakan dan penerbitan dikarenakan kurangnya naskah yang bermutu untuk diterbitkan. Untuk tahun ini saja, panitia dan dewan juri terpaksa harus menghubungi door to door para pengarang / penulis agar mempersiapkan dan mengirimkan naskahnya. Untuk itu Panitia meminta bantuan pada media massa untuk menyebarluaskan informasi kegiatan ini sehingga diharapkan pada awal tahun 2009 telah terkumpul cukup banyak naskah yang bagus untuk diseleksi dan diterbitkan melalui program Widya Pataka.
Selama ini, penghargaan terhadap karya cipta sastrawan Bali diberikan oleh orang lain, seperti Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung yang sejak sepuluh tahun terakhir menganugrahi buku terbaik dan tokoh setia dalam dunia pembinaan bahasa dan sastra Bali modern.
Badan Perpustakaan dan Arsip merasa gembira atas produktivitas cendekiawan Bali dalam menulis buku-buku kebudayaan Bali. Rintisan Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali ini diharapkan mendapat sambutan baik dari masyarakat.
Banyak penulis Bali yang penuh semangat menulis, mencetak dengan biaya sendiri, mengirimkan ke toko buku, atau mengedarkan sendiri karya-karyanya tanpa pamrih. Dari segi mutu dan manfaat, buku-buku mereka banyak yang berkualitas dan disambut serta digunakan masyarakat termasuk di sekolah-sekolah.
Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali selama ini dengan gembira mengoleksi buku-buku tentang Bali yang banyak diminati para pengunjung, baik dibaca di ruang baca yang ber-AC maupun dipinjam ke rumah. Sampai sekarang, Perpustakaan Daerah telah memiliki lebih 3.000 judul koleksi terdiri dari buku dan media umumnya tentang Bali.
Buku tidak saja merupakan sarana untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat, tetapi untuk mewariskan peradaban dari generasi ke generasi berikutnya secara tertulis. Kebudayaan Bali bisa agung seperti sekarang karena tradisi sastra dan tulisnya yang berlanjut dari dulu hingga sekarang.
Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi Ngurah Wiryanata, di Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali, Jl. Teuku Umar No. 55 Denpasar, HP. 081337161414 – 03618030066 atau via email : ngurahwiryanata@yahoo.com